Selasa, 05 Maret 2013

Apa Sih Sendangbiru itu??!!


SURGA                           Photo by my self:

Lautan berwarna biru kehijau-hijauan menyambut saya ketika masuk Pelabuhan Sendangbiru. Diatasnya bertebaran puluhan perahu jukung, payang dan sekoci. Perahu-perahu itu mengapung berkelompok mengelilingi dermaga.

Saya melihat perubahan besar di kawasan dermaga. Lebih bersih, rapi dan manusiawi. Mungkin karena dermaga baru ini yang membuat kawasan itu lebih manusiawi.
Di depan saya, berhenti mikrolet berwarna biru muda. Sekelompok muda-mudi turun membawa ransel besar. Mereka langsung didatangi oleh nelayan setempat.
“Mau menyeberang ke Sempu, ayok sini ada perahu yang sudah siap,” ajak seorang nelayan bernama Sunar (43 tahun) kepada kelompok itu.
SURGA II                           Photo by my self:
Perawakannya tegap, badannya legam dan berkumis tebal. Di lengannya terdapat tattoo yang tak terlihat jelas bentuknya. Ini disebabkan warna kulitnya yang menghitam terkena panas mentari.
Sepintas pria itu tampak kasar dan menakutkan. Kesan itu berubah setelah berbincang dengan pria asal Jember itu. Sunar, adalah ABK sejumlah kapal milik H. Syaifuddin (60 tahun), disini dia berperan sebagai “marketing” kapal.
Tak lama, rombongan itu berjalan mengekor Sunar. Mereka menuju dermaga yang berair jernih sebening kaca. Dari situ, kawan Sunar sudah menyiapkan tangga untuk anak-anak muda tadi.
“Saya mengantar mereka untuk menyeberang ke Sempu, Rp 100 ribu satu perahu, kalau keliling selat Sempu Rp 200 ribu, keliling pulau Sempu Rp 500 ribu,” akunya setelah berkenalan dengan Kota Wisata (Malang Post Group).
Angka yang disebut Sunar tadi, adalah harga untuk satu perahu. Dia sendiri yang mengukur kekuatan angkut satu perahu. Kadangkala bisa diisi 10 orang bahkan 15 orang.
“Kebanyakan memang mengangkut wisatawan yang hendak ke Sempu, tujuan mereka Segara Anakan,” beber dia.
Keindahan kawasan Sendangbiru makin menggoda ketika berada diatas perahu. Sejauh mata memandang yang tampak adalah bening air. Dermaga itu serupa danau besar yang dikeliling rimbunan hutan bakau dan mangrove.
Kedua ujungnya terhubung langsung dengan Samudera Hindia. Pulau Sempu yang membatasi Samudera Hindia dan dataran Jawa. Dari atas perahu tampak pilar-pilar raksasa sejauh ribuan meter.
MENYEBERANG                           Photo by my self:
“Pilar itu adalah karang-karang dibatas selat, di depan karang sudah lautan lepas,” imbuh Sunar berperan layaknya guide.
Meski penasaran, rombongan anak muda tadi tidak akan sampai ke pilar raksasa. Sebab, mereka hanya akan diantar ke Teluk Semut. Sebuah teluk kecil di Pulau Sempu, sebagai pintu gerbang menuju segara anakan.
Wisatawan dan kaum backpacker seperti rombongan tadi adalah asset nelayan. Ketika ikan sedang sepi, mereka menjadi sumber pendapatan. Paling banyak datang ketika musim liburan sekolah.
“Kami sebenarnya berharap bisa ada event yang lebih hebat disini,” celetuk Sunar.


Even Internasional di Sendangbiru?
Sendangbiru ada perkampungan nelayan di Desa Tambakrejo Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Desa itu memiliki dua dusun, yakni Sendangbiru dan Tamban. Keduanya memiliki pesona bahari yang layak jual. Even tahunan di dua dusun itu adalah petik laut.
Ketika musim petik laut, seluruh nelayan libur melaut. Selama empat hari mereka “berpesta” di daratan. Biasanya, mereka mengikuti sejumlah lomba. Volley pantai, lomba dayung perahu tradisional dan pertunjukan kesenian tradisonal.
“Acara puncaknya adalah petik laut, melarung tumpeng ke Samudera Hindia, nanti perahu-perahu nelayan akan berebut tumpeng itu di lautan,” terang Kepala Desa Tambakrejo Sudarsono.
SEGAR                           Photo by my self:
Sepintas pria ini terlihat seperti nelayan umumnya. Setelah berbincang, ternyata dia memiliki mimpi yang luar biasa. Sudarsono bermimpi Sendangbiru jadi jujugan wisata internasional.
“Saya tak ingin jualan ke lokal, itu seperti jeruk makan jeruk, saya ingin jualan internasional,” ujarnya berapi-api.
Bukankah dari segi fasilitas, Sendangbiru belum layak jual? Sang Kades membenarkan statement tersebut. Katanya, mimpinya baru saja dimulai, gebrakannya telah dilakukan.
Wisatawan internasional, menurut dia sangat mencintai kawasan yang ramah lingkungan. Untuk tahap awal dia mengubah kawasan kumuh nelayan menjadi indah dan manusiawi. Sebuah truk sampah dibeli untuk kebersihan kampung, ditambah satu mobil ambulance.
“Kami menargetkan 70 hektare hutan mangrove direhabilitasi,” tegasnya.
Saat ini, dia bersama warga telah berhasil merehabilitasi sekitar lima hectare. Kawasan mangrove juga ditanami Kayu bogem. Kayu dan buah bogem bisa dijual, satu buah seharga Rp 22 ribu.
“Kalau jalur darat masih susah, kita bisa datangkan wisatawan lewat jalur laut, dari Bali,” imbuhnya.
Memang saat ini di Indonesia marak even berkelas internasional seperti sail to Komodo. Jika ada dukungan dari berbagai pihak, bukan tak mungkin rute sail juga mengarah ke Sendangbiru. Melihat kondisi saat ini, belumlah memadai.
PANTAI TAMBAN      photo by my self
“Dari skala kecil kami siapkan lingkungan dengan koneservasi mangrove, ada juga homestay dan nanti membuat agenda even petik laut menjadi lebih layak jual,” bebernya.
Bahkan dia bermimpi lebih tinggi lagi. Dengan potensi tuna setahun 1000 ton, kawasan itu bisa menjadi ajang pesta barbeque. Rumah-rumah nelayan akan dilengkapi pemanggang ikan.
“Wisatawan belanja di TPI, kemudian membakarnya di kawasan kuliner,” akunya.
Pihaknya merencanakan tiga kawasan untuk ide internasional itu. yakni kawasan Clungup yang kini tengah dilakukan upaya konservasi mangrove. Kemudian pantai kawasan timur untuk transit kapal pesiar. Kemudian kawasan pusat kuliner dan oleh-oleh di areal pelabuhan ikan saat ini.
“Kawasan Timur untuk bersandar kapal akses dari Bali,” katanya.
Biasanya even petik laut sebagai andalan Sendangbiru digelar empat hari.
 Hari pertama lomba dayung dan tarik tambang di Pantai Tamban. Hari kedua voley pantai, hari ketiga festival seni budaya dan terakhir adalah petik laut.
“Untuk Sendangbiru petik lautnya tanggal 27 bulan September, kalau Tamban bulan 6,” bebernya.
HUTAN MANGROVE

Miniatur Indonesia
Sendangbiru dan Tamban adalah miniatur Indonesia. Di Sendangbiru hidup sekitar 3000 nelayan dari berbagai belahan Indonesia bahkan dari Filipina. Total jenderal Sendangbiru berpenduduk 8000 jiwa dan Tamban 3000 jiwa.
Para nelayan berasal dari Buton, Bugis, Lombok, Bali Sumbawa, Sumatera, Papua dan Filipina. Belakangan nelayan Filipina kabur ketika ada operasi passport.
“Disini minatur Indonesia, kami berbeda-beda namun hidup rukun dan damai,” aku H. Syaifuddin (60 tahun).
Syaifuddin adalah juragan kapal nelayan. Dia memiliki enam kapal mayoritas kapal sekoci. Pria renta ini berasal dari Sulawesi dan telah hidup di Sendangbiru selama 30 tahun.
“Saya sudah keliling samudera, sudah lelah dan akhirnya bertahan disini,” akunya.
MERAPAT
Karena biduknya sudah tak mampu berlayar terlalu jauh, Syaifuddin menetap. Disini dia menemukan surga. Ikan melimpah dan penduduk yang egaliter.
“Kami tentu sangat setuju disini jadi jujugan wisata internasional,” tegasnya.
Dengan akses laut yang memadai, tak sulit kapal pesiar bersandar. Tentu harus pula didukung kesiapan infrastruktur. Jalan Lintas Selatan (JLS) hemat dia cukup menghubungkan potensi wisata bahari di sekitar Sendangbiru.
Ketika akses darat bagus, maka wisatawan bisa diajak ke Balekambang. Selain berpesta di bibir pantai Sendangbiru mereka bisa menjelajah lebih jauh. Apalagi Sempu juga memiliki keindahan alam yang cukup layak jual.
“Selama ini kami iuran ketika even petik laut, per perahu Rp 100 ribu, pemerintah hanya menyumbang,” akunya.
Sebenarnya potensi wisata bahari di Malang Selatan bisa dijual. Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus berani meniru Sail to Komodo. Paling tidak merayu panitia agar kawasan ini disinggahi rute yacht mewah itu.
Selain even sail seperti itu, potensi lainnya adalah kapal-kapal pesiar. Data  PT Pelabuhan Indonesia III (Bisnis Indonesia) mencatat pada 2013 sebanyak 94 unit kapal pesiar direncanakan akan mengunjungi wilayah PT Pelabuhan Indonesia III.
Humas PT Pelabuhan Indoensia III, Edi Priyanto mengatakan  94 unit kapal pesiar itu direncanakan singgah pada sejumlah pelabuhan di tujuh Provinsi. Edi menjelaskan 94 kapal pesiar itu akan mengunjungi sejumlah pelabuhan di  Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Pada 2013 secara keseluruhan rencana kedatangan kapal pesiar di Indonesia mencapai 305 unit kapal pesiar. Dia mengungkapkan jumlah kunjungan kapal pesiar  bisa bertambah atau bahkan berkurang tergantung  pihak travel agen. Menurutnya selama 2012  sebanyak 92 kapal pesiar mengunjugi sejumlah pelabuhan di wilayah PT Pelabuhan Indoensia III.
Selama 2012 PT Pelindo III memperoleh pendapatan dari kunjungna kapal pesiar sebesar Rp8 miliar. Pendapatan itu terdiri dari jasa labuh, tambat pandu, tunda, air kapal, penyediaan ponton dan pas penumpang di semua wilayah pelabuhan PT Pelindo III.
Wisatawan yang mengunjungi wilayah PT Pelindo III pada 2012 menggunakan kapal pesiar sebanyak 57.544 orang. Destinasi utama adalah Pelabuhan Benoa Bali sebanyak 35 kapal pesiar dengan 27.523 wisatawan.
Sejauh ini pelabuhan yang disiapkan meliputi Pelabuhan Benoa (Bali), Pelabuhan Celukan Bawang (Bali), Pelabuhan Lembar (Nusa Tenggara Barat), Pelabuhan Soekarno Hatta (Makassar Sulawesi Selatan), Pelabuhan Tanjung Tembaga (Probolinggo Jawa Timur).
Ada juga Pelabuhan Sabang (Aceh), Pelabuhan Tanah Ampo (Bali), Pelabuhan Tanjung Emas (Semarang Jawa Tengah), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya Jawa Timur) dan Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta). Jika Sendangbiru sudah menjadi pelabuhan besar, bisa saja kapal mewah itu singgah.
Atau jika pemerintah tak mampu membangun. Barangkali, rayu saja Silolona, kapal phinisi mewah milik Patti Seery untuk bersandar ke Sendangbiru. Kapal itu mengeliling rute Indonesia Timur, hingga ke Thailand.
NYEMPLUNG
Silolona membawa penumpang kelas wahid, seperti owner BMW, owner maskapai penerbangan dari Amerika. Sesuai liputan Jawa Pos (Group Malang Post) per orang dipatok biaya tak kurang dari 4000 euro (Sekitar Rp 50 juta). 
Jika terealisasi, maka sang Kades dan nelayan akan terbangun dari mimpi. Mereka bakal sibuk melayani para pelancong. Sehingga keindahan Sendangbiru tak hanya ada di sampul majalah lokal saja,
Kedatangan rombongan pesiar, biasanya akan diikuti jurnalis internasional. Saya begitu terpesona dengan tulisan Ann Abel, kontribusi Forbes dan sejumlah media internasional lainnya. Dalam sebuah tulisan, Ann Abel begitu jatuh cinta dengan phinisi, Raja Ampat dan perairan timur Indonesia.
“In ten years as a travel journalist, I've been blessed with many "trips of a lifetime," but the nine days I spent aboard the Silolona in the waters around eastern Indonesia earlier this year constituted one of the most fantastic, memorable trips of my life: exotic, illuminating, endlessly cossetting, and deeply relaxing,” begitulah kira-kira rasa takjubnya.(Bagus Ary Wicaksono)

Kamis, 20 Desember 2012

Muljanto, Penjaga Candi Bergaji Rp 10 ribu Perbulan



Bagus Ary Wicaksono
Teks foto : BERSAHAJA : Muljanto (53 tahun) penjaga Candi Bocok Di Desa Pondokagung Kecamatan Kasembon, karirnya dimulai dari gaji Rp 10 ribu per bulan.
Simpan Arca di rumah agar tidak dicuri orang

Muljanto 


Ditawari Rp 250 Juta Untuk Lepas Arca Dewi Parwati

Muljanto (53 tahun) pernah menolak uang Rp 250 juta untuk seonggok batu berukir peninggalan jaman kerajaan. Pria yang tinggal  di perbatasan Kabupaten Malang dan Kediri, adalah penjaga Candi Bocok. Candi itu terletak di Desa Pondokagung Kecamatan Kasembon, desa paling ujung di selatan kecamatan.
Perjuangan pak Mul, sapaan akrabnya untuk mnejadi juru kunci candi, patut diacungi jempol. Sebelumnya, tidak pernah ada juru kunci yang bertahan hingga bertahun-tahun, karena gaji tidak jelas. Mul sendiri, bertekad menjadi penjaga candi setelah mendapat wekas (pesan) dari kakeknya, alm.Karto Taslim (eks Bayan Pondokagung).
“Oleh simbah, saya diwekas agar menjaga candi, karena tidak ada orang yang bersedia, katanya ditelateni saja,” ungkap Mul kepada saya.
Maka pada tahun 1980, Muljanto resmi menjadi penjaga candi dengan bayaran Rp 10 ribu per bulan. Namun berbekal pesan kakeknya, pria ramah itu dengan senang hati menjalani tugasnya. Sampai akhirnya dia diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 2006.
“Sebelum menjadi pegawai negeri, tahun 2000-an saya pernah ditawari Rp 250 juta untuk menjual arca Dewi Parwati,” kenangnya.
Saat itu, seorang pria datang ke rumahnya, dan menawarkan uang ratusan juta agar dirinya bersedia melepas arca Dewi Parwati. Bahkan dirinya juga akan diantar ke dealer sepeda motor untuk memilih sepeda motor baru. Ketika itu sosok misterius itu mengaku sudah menyiapkan arca duplikat Dewi Parwati.
”Benar juga pada tahun 2001 dan 2002, patung itu dicuri, namun akhirnya mereka tertangkap polisi dan sempat direkonstruksi di candi ini,” ungkapnya.
Para pencuri itu terbilang nekad, mereka menggempur arca Dewi Parwati supaya kakinya putus. Mengingat kaki arca itu lebih kecil dari pada tubuhnya, namun aneh, justru badannya yang terpotong. Kawanan kemudian mengangkat patung tersebut, tapi ditengah hutan mereka tak sanggung karena arcanya berat.
”Di Polisi, saat itu mereka mengaku sudah ada orang yang menghargai Rp 1,5 miliar untuk arca Dewi Parwati,” imbuh Muljanto.
Makanya, sejak saat itu, kemudian arca Dewi Parwati disimpan didalam rumah seorang tokoh desa bernama Ramelan. Sedangkan, Muljanto sendiri menyimpan arca Siwa didalam salah satu kamar di rumahnya. Sampai saat ini tak terhitung lagi orang yang datang untuk menawar arca itu.
“Ada yang pura-pura mencari nomor togel, tapi lama-lama menawar arca itu, saya tidak akan tergoda, ini adalah tugas negara,” tegasnya.
Sejak ada arca dipindah ke dalam rumah, tak ada hal gaib yang dialami oleh Muljanto sekeluarga. Justru, seorang penjual kerupuk keliling yang pernah melihat sosok laki-laki berbaju seperti raja. Sosok itu berada di depan rumah Muljanto, sang penjual kerupuk kemudian menanyakan hal itu kepada tetangga sang juru kunci.
“Setelah dijawab bahwa didalam rumah saya ada mbah Ageng, barulah si penjual kerupuk sadar bahwa dia melihat sosok gaib,” ujarnya sambil terkekeh.
Lain Muljanto, lain lagi Ramelan, yang menjaga arca Dewi Parwati di kamar rumahnya. Dia sering didatangi oleh perempuan cantik yang mengenakan kemben, kemudian sosoknya hilang masuk ke kamar. Arca itu dia simpan, juga atas wekas (pesan) dari ayahnya, Mbah Siin.
“Ayah saya termasuk tim yang mencari arca hilang pada tahun 1973, ketika ada pencurian,” ungkapnya.
Menurut Ramelan, tidak sembarang orang boleh memotret arca itu, atas alasan keamanan. Saya termasuk istimewa sebab berhasil masuk tanpa harus mencari surat dari desa. Biasanya, orang dinaspun harus membawa surat perintah dari desa untuk bisa melihat arca tersebut.(Bagus Ary Wicaksono)

Watu Gilang, Benteng Hilang Jaman Singhasari

Bagus Ary Wicaksono
MISTERIUS : Situs Watu Gilang di kawasan hutan perbatasan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang, menjadi jujugan para pencari pesugihan.

sering ditemukan koin kuno

peninggalan Singhasari

Nun jauh di pedalaman Pujon, terdapat situs Watu Gilang yang belum banyak dijamah oleh masyarakat luas. Aksesnya cukup sulit, hanya sepeda motor yang mampu menembus hingga ke situs bersejarah itu. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam diatas sepeda motor untuk sampai ke areal tersebut.

Pada tahun 1993, pemberitaan di media massa mengenai penemuan bangunan kuno sempat menggegerkan masyarakat. Jawa Pos pada Jumat Wage 19 Februari 1993 juga memuat berita mengenai situs Watu Gilang beserta fotonya. Ada dugaan, kawasan tersebut merupakan bekas areal pertempuran antara Singhasari dan Kerajaan Kediri.
Sebab pada masa Kertanegara, Jayakatwang Bupati Gelang-gelang menyerang Singhasari dari berbagai sisi. Pertama dia menerjunkan pasukan untuk menyerang dari sisi utara sebagai pancingan, kemudian menyerang dari arah selatan. Itu merupakan aksi balasan atas penyerangan masa lalu Ken Arok ke Kadiri melalui Desa Ganter (dekat Pujon).
Kenapa aksi peperangan di lokasi itu diduga terjadi ketika masa Jayakatwang, sebab pernah ditemukan koin China di kawasan tersebut. Koin tersebut diduga dari jaman Dinasti Ming yang didirikan oleh Kublai Khan. Sejarah mencatat, Kublai Khan sempat membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri.
Diduga pasukan tempur mereka melewati kawasan Pujon untuk mencapai Kediri dalam gelombang besar. Paling tidak, dua penemuan besar koin China membuat sejumlah warga Pujon kaya mendadak. Nah, koin itu ditemukan di sekitar areal Watu Gilang yang juga menjadi komplek makam kuno.
Watu Gilang sendiri merupakan sebuah tembok setinggi empat meter dengan panjang sekitar 27 meter. Posisinya diatas puncak gunung dan berbatasan dengan gunung Dworowati di sisi selatan. Di tempat itu, diperkirakan terjadi perang panah antara tentara gabungan sisa laskar Singhasari dan Kediri.
Banyak sekali makam diatas maupun dibawah Watu Gilang, keseluruhan memiliki nisan batu besar berbentuk persegi panjang. Darimana batu-batu itu dibawa, hal itu juga masih menjadi misteri. Akan tetapi berdasarkan temuan di sekitar hutan tersebut, masih terlihat ada batu besar seperti sisa letusan Gunung Berapi jaman kuno.
Nah, Watu Gilang sendiri paling dekat ditempuh melalui Kecamatan Pujon menuju Pasar Mantung. Setelah jembatan Mantung, anda tinggal belok kanan naik menuju Desa Ngabab. Dari sana, tanya saja Watu Gilang, maka tak lama akan datang tukang ojek menawarkan jasa.
Jika tak mengendarai sepeda motor, maka ojek adalah pilihan terakhir menuju situs Watu Gilang. Anda harus rela merogoh kocek cukup dalam, sebab ongkos pulang-pergi Ngabab ke Watugilang mencapai Rp 50 – 60 ribu per orang. Kendati di pedalaman, ternyata tempat itu ramai dikunjungi orang dari berbagai kota di Indonesia, untuk tujuan mencari kekayaan.
”Orang-orang yang kesini banyak datang untuk pesugihan,” ujar Udin, tukang ojek yang mengantar Kota Wisata.
Narsan, tukang ojek lainnya mengatakan, dirinya mendapatkan penghasilan tambahan pada Kamis Kliwon. Saat itu dipastikan sejumlah orang akan datang untuk nepi di Makam Mbah Semuo. Cerita rakyat di Desa Ngabab, Mbah Semuo tak lain adalah ayahanda Anglingdharma.
”Lumayan, kalau Kamis Kliwon bisa 10 orang yang naik ke Watu Gilang,” jelasnya.
Situs tersebut, kini diurus oleh juru kunci bernama Cukup Sudarsono, sekaligus tokoh spiritual setempat. Dia menjaga situs itu sejak tahun 1976 secara turun temurun dari kakeknya Nitiseno. Pada tahun 1990-an, Cukup kemudian diangkat oleh BP3 Trowulan sebagai penjaga situs.
”Sebelumnya situs yang merawat mbah saya pada jaman Belanda yakni Nitiseno jadi Pel Polisi Jaga Wana (mantri hutan),” katanya.
capek juga mendaki bukit

Megah

Juru Kunci

jalur Watu Gilang

 Makam Kuno Yang Jadi Jujugan Pemburu Harta

makam kuno

Di situs itu, orang-orang yang dikebumikan di makam kuno adalah tokoh-tokoh sakti mandarguna. Dia menyebut makam paling utama adalah Mbah Semuo, bapaknya Anglingdharma kemudian Singo Wareng, Ronggowuni, Mbah Melati murid Mbah Semuo dan Kyai Ageng Gringsing.  
”Juga ada makam Ronggojati, Sutejo Anom, Rojo Mulyo, Syeh Abdul Khodir Jaelani, Syeh Subakir dan Syeh Maulana malik Ibrahim serta Ki Ageng Serang juga disitu,” terangnya.
Cukup enggan mengakui bahwa kebanyakan yang berziarah ke situs Watu Gilang untuk mencari pesugihan. Akan tetapi secara tersirat dia menegaskan bahwa kebanyakan orang datang untuk keberhasilan kerja. Orang Ziarah dari seluruh Indonesia, Bengkulu bahkan hingga Kalimantan.
”Informasi dari gethok tular, kalau kerja berhasil maka akan diikuti orang. Yang berhasil nyuwun kerja lancar dan kaya,” tukasnya.
Untuk itu, tamu ziarah wajib membawa bunga telon 10 bungkus, minyak fanbo, dupa gunung kawi dan menyan madu merah per satu orang. Cukup sendiri, meskipun melalui mata batin membenarkan bahwa tempat itu dulu menjadi ajang pertempuran Singasari. Buktinya, di kawasan itu masih ada jalur kuno yang menjadi jalan masa lalu menuju langsung ke Singhasari.
Untuk tiba ke Watu Gilang, harus ekstra hati-hati ketika melewati jalur offroad yang hanya cukup untuk satu sepeda motor. Jalur akan makin naik ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut tipis. Aura magis langsung terasa saat berada di pintu masuk Watu Gilang, sebuah kuburan dan kolam kuno sudah menyambut kita.
Di depan situs itu sudah tersebar beberapa makam kuno dan sebuah tangga batu persegi. Watu Gilang jelas terlihat, bentuknya yang besar bagai tembok raksasa untuk benteng sebuah kerajaan. Ada jalan setapak yang menuju ke makam utama Mbah Semuo serta makam para tokoh lainnya.
Dari makam-makam yang ada di tempat itu, hanya makam Mbah Semuo yang diberi rumah-rumahan. Disamping makam terdapat jalur setapak menuju Goa Dworowati nun jauh diatas puncak gunung lainnya. Disisi depan makam terdapat jalur kecil menuju puncak lainnya berjarak sekitar 50 meter dengan halaman sebuah jurang sangat dalam.(Bagus Ary Wicaksono)