Selasa, 12 Agustus 2014

Kitsch di Kampung Adat Sindangbarang

Tulisan ini menjadi bagian dari kunjungan saat saya mengikuti Sekolah Jurnalisme Kebudayaan angkatan kedua tahun lalu, di Batu Tulis Bogor. Dalam sebuah kesempatan, perwakilan wartawan dari seluruh nusantara diajak berkunjung ke kampung Adat Sindangbarang.
Pertunjukan seni tradisi yang ditampilkan di Kampung Adat Sindangbarang Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari Bogor, mulai membias dari esensinya. Hal tersebut nampak dari sajian angklung gubrag maupun seni silat Cimande yang dipertontonkan kepada pengunjung. Pertunjukan tersebut, sekedar penunjang keberadaan kampung proyek revitalisasi itu.
Muncul kekhawatiran, sajian angklung gubrag dan seni silat di tempat itu, hanya sekedar pemanis revitalisasi. Jika hal demikian benar -benar terjadi, keduanya bisa menjadi kitsch (baca, sekedar kemasan) semata. Dipertontonkan, sekedar mengikuti keterbatasan waktu para wisatawan.
Revitalisasi Kampung Adat Sindangbarang menelan dana Rp 750 juta, pada tahun 2006. Dana dihibahkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dasarnya, Singdangbarang disebut sebagai kampung adat tertua di Bogor. Versi naskah Pantun Bogor dan Babat Pajajaran. Adapun bukti material Sindangbarang adalah kampung adat tertua dan bagian Kerajaan Pajajaran, ditandai dengan keberadaan sejumlah situs penting. Sebut saja, Taman Sri Baginda dan Sumur Jalatunda yang berada di Jalan Kapten Yusuf.
Sepanjang jalan menuju Sindangbarang, berupa kontur kemiringan kaki Gunung Salak. Jalur kendaraan merupakan jalan desa yang sempit. Jika ada dua mobil berpapasan, maka salah satu harus mengalah. Kontur khas pegunungan kian terasa, menjelang Jalan Sumawijaya. Kondisi Jalan berkelok-kelok, bahkan adapula tikungan menanjak yang patut diwaspadai.
Dominasi persawahan penduduk menunjukkan identitas masyarakat Sindangbarang, mayoritas bergerak di sektor agraris. Tak heran masyarakat memiliki budaya angklung gubrag, sebagai ritual tanam padi perdana agar panen melimpah. Tapi kini, nampaknya komoditasnya sudah berbeda, tak lagi padi, melainkan manusia.
Pada ujung tanjakan, sejumlah perempuan desa berpakaian adat siap menyambut. Mereka merupakan kelompok seniman angklung gubrag dari Cipining. Ada sekitar delapan perempuan memainkan angklung, dipimpin satu perempuan pembawa kendang panjang. Dalam tradisi aslinya, angklung gubrag ini dimainkan ketika musim menanam padi saja.
Mereka mengenakan baju adat Sunda, atasan dan bawahan hitam, dipadu kain jarik serta ikat kepala ala sunda. Bahkan angklung mereka juga sama seperti tradisi asli, di ujungnya terdapat empat ikatan batang padi. Lantas dimana letak bias budaya pada pertunjukan angklung tersebut?
Tiada yang salah dalam hal benda budaya yang mereka mainkan dan kenakan. Hanya saja, seniman tak lagi memainkan ansambel untuk benih padi, tapi untuk manusia. Sesuai tradisi lama, seharusnya musik itu hanya dimainkan pada saat musim tanam padi. Seharusnya ditandai pula dengan ritus Pupuhu yang memberi ajimat atau doa pada benih pertama.
Usai mendapat sambutan meriah dari para seniman angklung gubrag, wisatawan cukup menempuh jarak sekitar 200 meter menuju pintu masuk kawasan Kampung Adat Sindangbarang. Kawasan seluas sekitar 8.6 00 meter persegi disulap menjadi kampung kuno. Ditandai dengan struktur dan bangunan tradisional sunda, sesuai gambaran dalam naskah Pantun Bogor.
Bangunan dan struktur tersebut berderet rapi membentuk huruf U. Areal kosong ditengah huruf, difungsikan sebagai alun-alun. Lesung penumbuk padi, ditempatkan dekat pintu masuk dibawah bangunan tanpa tembok. Secara berjajar berdiri enam Leuit atau disebut sebagai lumbung padi.
Dana Rp 750 juta, juga digunakan untuk membangun rumah adat untuk kokolot (tetua) berupa Girang Serat. Termasuk membangun balai pangriungan (balai pertemuan), saung lisung yang difungsikan untuk pesanggrahan tamu. Adapun yang paling menonjol adalah Imah Gede, ini bangunan utama yang ditempati Pupuhu (kepala Kampung Adat Sindangbarang Maki Sumawijaya.
Rumah kepala adat tersebut, menyesuaikan dengan strata sosialnya. Di kampung itu, Imah Gede ditempatkan di lokasi paling strategis, Imah berada di tanah yang lebih tinggi. Ketika sang Pupuhu duduk di teras Imah, maka seluruh kawasan berada dalam jangkauan matanya.
Alun-alun berfungsi pula untuk pertunjukan kolosal. Dalam durasi pendek, pertunjukan selanjutnya adalah seni silat. Pagelaran dimulai, ketika nayaga (seniman gamelan) mulai memainkan Kidung Rahayu. Durasi kidung untuk penyambutan tamu itu, berlangsung sekitar lima menit.
Sementara itu, dua pesilat laki-laki dan perempuan sudah siap turun ke areal pertunjukan. Pesilat perempuan, Ning Vera, mempertontonkan silat pengembangan Cimande dari Mulyaharja, yakni tepak dua. Gerakan perpindahan kaki selalu diikuti dengung gong dan kendang. Silat lebih agresif ditunjukkan oleh pesilat laki-laki, Ari, dengan tepak tujuh.
Meski berbeda jurus, kedua gerakan pesilat itu, tetap mengikuti gendang pencak. Terdiri dari gong, Kemprang (kendang laki-laki) dan Gedug (kendang perempuan). Pemain Kemprang memainkan pula dua kendang kecil yang disebut Kulanter. Sedangkan pemain Gedug hanya dilengkapi satu Kulanter.
Yang mengendalikan ansambel tersebut, adalah tiupan terompet Yas Sasmita asal Mulyaharja. Dia datang ke Sindangbarang sesuai panggilan pengelola, ketika wisatawan tiba. Termasuk juga mengiringi Silat Cimande yang kemudian disajikan Kokolot Sindangbarang Ukut Sukatma dan satu pesilat lain.
Silat Cimande, biasanya dimainkan dalam tradisi pernikahan orang Sunda. Pesilat dari pihak pengantin laki-laki datang menggendong dandang penanak nasi. Dandang itu yang harus ditendang hingga jatuh oleh pesilat pihak calon pengantin perempuan.
Ritual untuk pengantin inipun juga berasal dari pergeseran tradisi. Sebab, pada masa Kerajaan Pajajaran, Cimande dipakai untuk adu Jaken para petarung. Pada perkembangan kekinian, juga sekedar hiburan wisatawan.
Meski sebatas kemasan wisata, namun para pesilatnya, tetap mempertahankan tradisi lama. Apapun acaranya, Silat Cimande harus dimainkan sungguhan. Tiada drama dalam silat itu, tendangan diberikan keras, namun tak boleh mengenai bagian tubuh atas. Sajian seni budaya tersebut, mulai dari angklung gubrag, silat tepak dua, silat tepak tujuh dan silat Cimande, adalah kemasan untuk kampung adat. Jangan sampai seni tersebut hanya menjadi pemanis revitalisasi kampung adat. Fungsi angklung gubrag dalam kerangka seni tradisi sebagai ritual harus tetap dikerjakan. Fungsi kampung adat, tak sekedar sebagai tempat suguhan budaya, melainkan untuk motor budaya kuno dalam kutub pemikiran.
Meminjam istilah Adorno, kitsch adalah fenomena industri budaya (culture industry), seni diposisikan sebagai karya yang dibuat dan dikendalikan oleh kebutuhan pasar. Pasarlah yang menentukan apa yang disebut seni. Masyarakat hanyalah konsumen yang pasif menerima definisi itu.
Kearifan lokal, bukanlah sekedar tontonan namun juga memiliki nilai kebudayaan. Budaya bukanlah sekedar merestorasi bangunan masa lalu. Akan tetapi, budaya adalah tetap menjalankan nilai adiluhung warisan leluhur. Adakah kitsch menguasai Sindangbarang? Hal ini dikembalikan kepada kesadaran budaya kita masing-masing.(Bagus Ary Wicaksono)
Longok juga tulisan tentang budaya di http://jurnalragam.blogspot.com/2013/08/kitsch-di-kampung-adat-sindangbarang.html

Senin, 11 Agustus 2014

Mendaki Semeru, Paska Jadi Pemeran Utama Film 5cm (Bagian 2/Habis)

'Ling deva mpu Kameswara tirthayatra"
Sejak booming film 5 cm, ekosistem di kawasan Semeru, terbilang sangat mengkhawatirkan. Ketika long weekend, ada sekitar 3.000 pendaki naik hingga ke Ranu Kumbolo. Jika tak dibatasi, ekosistem Semeru, sekaligus harta karun kawasan itu, benar-benar terancam. Bagi saya, pendakian kali sangat mencerahkan. Sebab tim jurnalis didampingi orang-orang hebat. Sebut saja Toni Artaka (sekarang menjabat Kepala Resort Ranu Pani), si Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ada juga Mahmudin Rahmadan, sang penyuluh kehutanan dan Parningotan Sinambela (Ningot).
Nama terakhir, adalah staf dari Resort Ranupani yang mendampingi pendakian Igor Saykoji. Igor pemeran Ian dalam film 5 cm itu, mendaki puncak Mahameru dalam waktu 11 jam! Bahkan dia terpaksa harus ditarik tali, untuk sampai ke atap para dewa itu. Semeru memang menggembleng pendaki untuk menjadi lebih hebat. Sejak jaman kerajaan Kadiri, telah menjadi jujugan ziarah suci. Terbukti dari prasasti Ranu Kumbolo yang bertulis 'Ling deva mpu Kameswara tirthayatra' atau ziarah suci Kameswara. Bahkan juga situs Arcopodo (arca kembar) di ketinggian 3.002 meter diatas permukaan laut.
Semeru juga memiliki harta karun flora dan fauna yang tak terperikan. Sepanjang perjalanan pendakian, kami tahu nama-nama flora itu dari Toni Artaka Sang Pengendali Ekosistem Hutan.
‘’Kalau dalam avatar ada pengendali angin, maka mas Toni ini adalah avatar yang lebih hebat, yaitu Pengendali Ekosistem,’’ canda Mahmudin Rahmadan. Di Puncak Mahameru yang menjadi atap para dewa, Toni menemukan Tranverse Lady Bug. Hebat, kumbang yang umum di Asia Tenggara ini bisa hidup di atap Jawa. Selama ini belum pernah ada catatan temuan lady bug di puncak gunung, terutama gunung berapi aktif. ‘’Mungkin terbawa pendaki. Kalau tanaman mirp lavender di Oro-oro Ombo itu namanya Verbenaria brasiliesis, dari Amerika Selatan yang terbawa bangsa Belanda saat invasi ke kawasan Tengger,’’ urainya.
Dia juga menemukan Dendrobium jacobsonii, jenis ini langka. Dan hanya ada di Jawa Timur yakni di Gunung Lawu, Wilis, Arjuno, Kawi dan Semeru pada elevasi 2.300 hingga 3.000 m dpl. Pendakian kami, yang cukup berat, terbayar dengan pengetahuan baru itu. Di Arcopodo, saya lihat papan in memoriam yang dulu bertebaran tinggal beberapa saja. Sayangnya, sampah-sampah masih banyak bertebaran, sepertinya milik pendaki 5 cm, begitu gurauan kawan-kawan seperjalanan saya.
Beberapa tahun lalu, saya sempat beberapa hari bermukim di Semeru. Menjadi bagian dari seleksi pendaki Carstensz Pyramid, gunung di Papua. Tim kami, setiap hari mendaki dari Kalimati menuju Cemoro Tunggal, butuh waktu pulang pergi sekitar 1,5 jam saja. Saya sendiri, meski fisik terbaik, namun tak lolos ketika tes kesehatan, gara-gara di deteksi mengalami penyempitan pembuluh jantung. Berbeda dengan pendakian terdahulu itu, kini saya rasakan Semeru semakin menantang. Semakin butuh waktu lama untuk berziarah ke atap jawa.
Tim jurnalis, tiba paling awal di puncak Mahameru. Disusul tim dari TN BTS seperti Toni Artaka serta Mahmudin Rahmadan. Hebatnya, ada dua perempuan dari tim Bappenas berusia diatas 40 tahun yang mampu menggapai puncak.
Tim Bappenas itu diantaranya June Ratna Mia (55 tahun), Gagah Deritha Simawang (54 tahun), Nur Hygiawati Rahayu (42 tahun), Rosib (40 tahun), Dadang Jainal Mutaqin (34 tahun), dan Pungky Widiaryanto (30 tahun).
Sekitar sejam di atap pulau Jawa, tim kami kemudian turun ke Kalimati, tiba pukul 11.55. kemudian pada pukul 14.55 turun menuju Ranu Kumbolo dan Ranu Pani. Kami tiba di basecamp Ranu Pani sekitar pukul 22.15, tiba di Malang pukul 1 dinihari.
Selama tiga hari di Semeru, membuat saya berpikir cukup lama. Banyak sekali pendaki yang datang ke Semeru. Sesuai data BB TNBTS, pada long weekend saja pernah mencapai 3.000 orang. Betapa banyak sampah yang ditinggalkan pendaki pemula itu.
Saya mengenal Semeru, setelah membaca catatan seorang demonstran karya Soe Hok Gie. Aktifis itu kemudian meninggal di atap Jawa bersama karibnya Idhan Lubis. Dari buku itu, saya dapatkan pelajaran berharga, yakni untuk menghargai alam. Sedangkan, Semeru saat ini, justru lebih banyak didatangi pendaki pemula. Mereka mengenal Semeru umumnya dari film 5 cm. Niatan datang untuk sekedar memanjakan mata, melupakan safety bahkan mungkin sampah bawaannya.
‘’Ada 3.000 pendaki, bayangkan jika 1.500 orang merokok, kemudian membuang sembarang puntungnya, berapa jumlah sampah dari puntung rokok saja,’’ keluh Toni Artaka. Maka tak heran, di sepanjang jalur pendakian saya lihat begitu banyak bungkusan permen, rokok dan sebagainya. Saya lihat juga, bertebaran pendaki pemula dengan celana jeans, baju ala mall dan sepatu kets.
Padahal, celana jeans itu membuat suhu lebih dingin ketika berada di alam bebas. Bayangkan saja, pendaki pemula itu tidur ketika Ranu Kumbolo bersuhu minus 20 derajat. ‘’Baru tahu dari Ranu Kumbolo, ya hanya membawa ini seadanya, saya tak tahu kalau medannya seperti ini,’’ aku salah satu pendaki perempuan. Padahal, tanpa persiapan khusus, Semeru tak sungkan menelan nyawa. Resort Ranu Pani mencatat terdapat 28 orang meninggal dunia, tiga pendaki tidak ditemukan/meninggal dan 25 orang mengalami luka-luka/selamat. Dan terakhir Rabu (6/6) lalu, pendaki Gresik tewas akibat serangan jantung di Pos 1.
Meski ingin menikmati kisah Genta, Riani, Arial, Ian dan Zafran (film 5 cm), keamanan adalah hal utama. Jangan pula lupakan kelangsungan ekosistem Semeru, sedikit saja sampah kita tinggalkan, berarti kiamat pada masa depan.
‘’Kita ingin Semeru ramai, maka SDM TN BTS harus siap, seperti mengurusi sampah dan lain sebagainya, film 5 cm untuk promosi, pro kontra wajar. Sementara ini kuota pendaki belum dibatasi, ke depan harus dipikirkan, kami minta sampah nanti harus diperhatikan dan bisa dimanfaatkan yang bisa daur ulang,’’ urai Basah Hernowo Direktur Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas kepada Malang Post.
Mendaki Semeru saat ini jauh lebih mudah, sebab bisa booking online seperti hotel. Menurut Kepala BB TN BTS Ayu Dewi Utari TNBTS, pihaknya memang mengembangkan konsep ecotourism, tujuannya agar warga tetap bisa sejahtera. Pihaknya memberdayakan porter, juga petugas sampah dari warga masyarakat. ‘’Porter saat ini bisa meraup pendapatan per hari Rp 150 ribu, sedangkan sampah dipilah warga untuk kemudian didaur ulang, organik dijadikan pupuk,’’ jelasnya.
Namun tetap saja, niat mendaki gunung harus diluruskan, tak sekedar menikmati romantisme 5 cm. Mendaki juga tindakan syukur kepada Sang Pencipta, atas anugerah alam yang begitu indah. Kalau versi Soe Hok Gie, mendaki gunung adalah bagian dari patriotisme, mendaki gunung membuat fisik sehat dan jiwa sehat. (Bagus Ary Wicaksono/habis)
semua foto ilustrasi di blog ini adalah karya saya pribadi dan sejumlah rekan fotografer, jika ingin ambil, silahkan kontak ke email di sugab_ary@yahoo.co.id

Kamis, 12 Desember 2013

doorprize

Mas Adi Jiwandono mengambil doorprize untuk karyanya yang memenangi hunting model di hotel Ibis Styles, Kamis malam (12/12/13). Hadiah diserahkan Rizal Fanany fotografer Malang Post (kiri) di lobi kantor korane Arek Malang ini.
ini loh penampakan mereka berdua :)

Juara 2 Lomba foto Eksplorasi alam, budaya dan landmark Malang Raya

Andy Rahardian Akbar Juara 2 Lomba foto Eksplorasi alam, budaya dan landmark Malang Raya persembahan Malang Post Forum dan Bentoel Group mengambil hadiahnya di kantor Malang Post Jalan Sriwijaya 1 - 9 Kota Malang, Pukul 16.15 Kamis 12 Desember 2013. Hadiah diserahkan oleh Redaktur Foto Malang Post Guest Gesang didampingi Bagus Ary Wicaksono selaku Ketua Panitia lomba , pameran dan workshop foto Eksplorasi alam, budaya dan landmark Malang Raya.
Andy tak sempat mengikuti prosesi penyerahan hadiah di Hotel Ibis Styles, sebab masih bekerja di PT Semen Gresik di Tuban. Bersama sang istri, Andy berangkat dari Tuban untuk datang ke kantor Malang Post, kemarin.
Berikut Andy Rahardian Akbar diapit Guest Gesang dan Bagus Ary Wicaksono
Foto ini diambil oleh Muhammad Firman fotografer Malang Post.

Pemenang Hunting Foto Model Malang Post Forum di Hotel Ibis Styles

Juri telah memilih lima pemenang hunting foto model Malang Post Forum di hotel Ibis Styles pada pelaksanaan workshop. Berikut para pemenangnya :
Lima pemenang hunting foto model
1. Adi Jiwandono
2. Aryo Baruno
3. Duto Prakoso
4. Gianina
5. Heri Setiawan
Para pemenang diharapkan mengambil doorprize di Kantor Malang Post Jalan Sriwijaya 1-9 Kota Malang pada jam kerja.

Selasa, 10 Desember 2013

25 Nominator dan Juara Lomba Foto "EKSPLORASI ALAM, BUDAYA DAN LANDMARK MALANG RAYA"

PERSEMBAHAN MALANG POST FORUM DAN BENTOEL GROUP
Karya foto yang masuk ke panitia lomba, telah dikurasi oleh Dewan Juri lomba, antara lain : Pemimpin Redaksi Malang Post Sunavip Ra Indrata, Eddie Putera fotografer dari Malaysia serta Guest Gesang Redaktur Foto Malang Post.
Hasilnya sebagai berikut.
25 Nominator Lomba Foto “Ekplorasi Alam, Budaya dan Landmark Malang Raya” :
1. Andy Rahardian Akbar
2. Agung Hidayat
3. Aryawan Nurmansyah
4. Aryo Baruno
5. Bagas Winarto
6. Deli Himura
7. Emil Enan
8. Febry Kushargiyanto
9. Fika Aditama
10. Ghofuur Eka Ferianto
11. Habibie N. Muhammad
12. Heri Setiawan
13. Jefri G. Permana
14. Komang
15. Luqmanul Hakim
16. Nedi Putra A.W
17. Premi Bima
18. Risfanto Tri N
19. Rizkhi Budi R
20. Rizky Dwi Putra
21. Slamet Faizin
22. Suci Rahayu
23. Taufik Soleh
24. Waseso Aji
25. Wawan Wahjudianto
Dari 25 nominator tersebut, dewan juri telah memilih lima besar, terdiri dari :
Juara 1 Rizkhi Budi R dengan karya “Cahaya Kota”
Juara 2 Andy Rahardian Akbar dengan karya ”Batu Farmer”
Juara 3 Taufik Soleh dengan karya ”Jami’ Mosque”
Empat besar Waseso Aji dengan karya berjudul ”Akulturasi”
Lima Besar Febry Kushargiyanto dengan berjudul “Gereja Ijen”
cek di http://www.malang-post.com/features/78237-ketika-jawara-lomba-berkisah-kiat-sukses-berburu-momen
Malang Post Forum dan pihak panitia mengucapkan selamat kepada para juara dan para nominator, jangan berhenti berkarya, abadikan kehidupan di sekitar anda.
Salam fotografi,
Ketua Panitia
Bagus Ary Wicaksono
Em : sugab_ary@yahoo.co.id
Tw : @bagus_ary
Pengumuman nominator dan juara lomba digelar pada pembukaan pameran dan workshop fotografi di Hotel Ibis Styles. Dalam workshop tersebut para fotografer mendapatkan materi fotografi dari Eddie Putera fotografer Malaysia, Becky Subecky fotografer senior Jawa Post dan Guest Gesang Redaktur foto Malang Post. Pada akhir sesi, para peserta diajak untuk hunting model di kolam renang Ibis Styles. Hunting yang sedianya berlangsung 15 menit, molor hingga 25 menit karena seluruh fotografer asik membidik model. Di areal kolam renang, Eddie Putera dan Guest Gesang memberikan arahan kepada model dan fotografer.
Berikut suasananya :
Eddie Putera memberikan materi workshop
Mas Becky Subecky in action
Guest Gesang Redaktur foto Malang Post
Berikut suasana hunting model, jepreeet terussss
Panitia dari Malang Post Forum, Bentoel Group serta para peserta.
note : Seluruh foto yang dipakai diatas merupakan karya sepenuhnya dari fotografer Malang Post Rizal Fanany (follow di @kopralbego)

Jumat, 05 Juli 2013

Mendaki Semeru, Paska Jadi Pemeran Utama Film 5cm (Bagian 1)

Mati Salvinia Molesta, Tumbuh Verbenaria Brasiliesis


Aura di Lautan Pasir Gunung Bromo, kawasan ini bisa disinggahi dengan menuruni Jemplang
Gunung Semeru, yang memiliki Mahameru sebagai atap pulau Jawa, makin terkenal sejak film 5 cm dibuat. Gunung setinggi 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl). tersebut, kian ramai didaki oleh perempuan-perempuan cantik. Mereka datang karena tahu, Semeru setelah menonton film 5 cm, lantas bagaimana kondisi alamnya sekarang?

Magnet alam ini bernama Semeru. Memiliki tanjakan nan terkenal, bernama tanjakan cinta. Awal Juni lalu, saya mewakili Malang Post berkesempatan mendaki atap pulau Jawa itu. Bersama rombongan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Bappenas dan sejumlah jurnalis.
Saya mendaki bersama Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kemenneg PPN/Bappenas Basah Hernowo. Juga Ayu Dewi Utari, Kepala BB-TNBTS, alias “penguasa” kawasan pegunungan yang kami injak hari itu. Dari titik start, tim Bappenas, BB TNBTS dan Tim Jurnalis berangkat bareng-bareng. Namun, akhirnya tim jurnalis tertinggal jua, nafas kami “habis” di tanjakan menuju landengan dowo. Maklum saja, kami membawa beban yang cukup berat, carrier 120 liter di punggung (ngeles, hehe).
Harus diakui, pendakian kali ini, tergolong cukup cepat dan berat, ini adalah pendakian express. Kami hanya diberi waktu mendaki Puncak Mahameru dua hari satu malam! (gilaaak gak tuh)

Ranu Pani ketika masih ditumbuhi Salvinia Molesta
Rombongan kami tiba di Ranupani (basecamp Semeru), Senin (3/6), sekitar pukul 15.00. Turun dari Elf, kemudian menaruh carrier  (tas punggung) di cottage BB TN BTS di pinggir Ranu Pani (danau Pani). Cottage ini begitu strategis, persis di depan jendela kamar adalah dermaga Ranu Pani. Halaman cottage kami adalah danau!
Sekitar enam bulan sebelumnya saya pernah singgah di Ranu Pani. Kala itu, masih banyak Kiambang atau Salvinia Molesta. Sejenis paku air yang tumbuh menutupi permukaan danau. (baca di http://batikimono.blogspot.com/2012/09/berpacu-menyelamatkan-ranu-pani.html)

Nanda dan Aura di basecamp Pendakian
Kami foto narsis di dermaga dalam formasi lengkap, tim jurnalis : Abdi Purmono alias bang Abel yang nsudah mendaki Fuji di Jepang (http://batikimono.blogspot.com), Hari Istiawan Okezone, Dyah Ayu Pitaloka Jakarta Globe, Iksan Surya, Erik Republika, fotografer Kompas dan reporter RRI. Puas disana, kami menyusuri pinggiran Ranu Pani yang berpaving. Tujuan jalan santai ini adalah Ranu Regulo yang berjarak sekitar 1 km, jalannya paving semua.
Kamera D-SLR tak pernah lepas dari genggaman tangan. Puluhan frame kami jepretkan sore itu, mengabadikan langit yang sedang bercermin di muka Danau Regulo, amboi… Mengincar lingkaran air yang terbentuk akibat lemparan sebutir batu diatas air, dari dermaga Ranu Regulo. (Ranu berarti danau)
Waktu seperti terbunuh di danau ini, meninggalkan jejak peradaban, kemacetan kota dan seabreg hiruk pikuk masyarakat modern lainnya. Aku lupa hutang-hutangku..hehehe. Tapi, aku ingat anakku (Ananda Alma Bella Wicaksono dan Aura Putri Wicaksono), ingat istriku (Anisatus Soliha). Mereka pernah aku ajak menikmati indahnya Ranu Regulo, bercanda seharian di bukit teletubbies dan lautan pasir Gunung Bromo. 

Formasi lengkap di Ranu Regulo
Tiba-tiba, dengan tergopoh, seorang petugas TN BTS mendatangi kami. Waktu sudah menunjukkan angka 18.00. Rupanya, warga Ranupani, Pak Basah Hernowo dan Ayu Dewi Utari telah memulai pertemuan. Sebuah pertemuan untuk merancang system pelayanan pendakian Semeru sekaligus konsep pemberdayaan masyarakat. Gunung ini telah menjadi puri ziarah para pendaki, seperti mount everest di pegunungan Himalaya, ada sisi bisnis yang bisa dikembangkan.
Bersama kak Nanda


Dermaga Ranu Regulo
Mengikuti pertemuan dengan warga Ranupani hingga pukul 22.00, kemudian baru tidur pukul 00.00. Selasa Subuh, rombongan sudah bersiap naik ke Ranu Kumbolo.
Berangkat dari Ranupani pukul 06.00, melewati jalur konvensional (resmi). Dulu ketika mahasiswa, Malang Post mendaki lewat jalur Ayek-ayek, jalurnya para porter. Di jalur konvensional ini, sekarang sudah lebih bagus. BB TNBTS sudah membangun paving mendekati pos 2.
Sejam berjalan, kami sudah tiba di Landengan Dowo (2.270 mdpl), sebuah persimpangan jalur. Dari sini jalurnya masih berupa paving, namun berada di tepian jurang. Sedangkan di kanan jalur, didominasi tumbuhan hutan, terutama pohon akasia. Sejam kemudian kami tiba di pos 1, berupa bangunan pondok.
Puas istirahat disana, perjalanan kami lanjutkan. Sekitar 10 menit berjalan, paving jalan sudah habis, dari sinilah, nuansa pendakian mulai terasa. Kaki harus menyentuh medan tanah berbatu, kadang kala diselipi akar pohon.
Ambil nafas lalu narsis di Ranu Kumbolo
Jalur menuju Ranu Kumbolo ini sangat menarik. Pemandangan di sisi jalur tetaplah sebuah jurang. Lima kilometer dari Ranu Pani, sampailah kami di pos Watu Rejeng (2.300 mdpl), berupa hutan hujan dibawa dinding batu setinggi sekitar 100 meter.
Jalur dari Waturejeng ini, perlahan mulai menanjak, untuk menuju pos 3. Yang paling berat adalah tanjakan Bakri, persis di pos 3. Dinamai demikian karena yang membuat jalurnya adalah Pak Bakri, warga Ranupani.
Begitu lolos dari Tanjakan Bakri, maka siap-siap saja, anda menemukan danau besar nan indah. Saat itu, sisi jurang telah habis dan jalur mulai bertemu dengan himpitan punggungan bukit. Dari situ sudah mulai bisa ditemukan sekumpulan pohon Edelweiss. Ranu Kumbolo telah dekat.
Edelweiss mulai nampak di pintu masuk Ranu Kumbolo

Persis pukul 11.00, kami tiba di Ranu Kumbolo. Butuh waktu lima jam mendaki. Normalnya, Ranu Kumbolo setinggi 2.390 mdpl ini ditempuh sekitar 3 – 4 jam saja. Ranu Kumbolo, merupakan danau yang sangat indah, dikeliling punggung bukit dan sabana yang luas.
Di danau ini, pada musim tertentu, suhu udara bisa minus 20 derajat celcius.
Dari sini, sekitar pukul 12.15 kami menuju Kalimati. Melewati tanjakan cinta, dan tiba di hamparan sabana bernama Oro-oro Ombo. Sungguh indah, saat ini di kawasan itu hidup tumbuhan mirip lavender dan sedang berbunga.
’’Kami menduga, bunga ini bawaan dari luar negeri,’’ ujar Kepala Resort Ranu Pani BB TNBTS, Yohanes Cahyo.
Melewati Oro-oro ombo seluas lima hektare, kami disuguhi pemandangan alam mirip Eropa. Pohon pinus berjajar, nun jauh disana juga ada sekumpulan hutan Cemara. Setelah istirahat sejenak di Cemoro Kandang (2.500 mdpl), kemudian melaju ke Jambangan (2.700 mdpl).
Bunga mirip lavender bernama Verbenaria Brasiliesis terbentang di sabana tersebut. Dari kejauhan warnanya ungu muda. Namun ketika angin bertiup dan bunganya bergerak, warnanya berubah menjadi pink. Di belakang Oro-oro Ombo terdapat gunung besar bernama Gunung Kepolo, Mahameru masih mengintip malu-malu.
Oro-oro Ombo, disini tumbuhan Verbenaria Brasiliesis mulai berekpansi

 ’’Bunga-bunga seperti ini lazimnya berada di Amerika Selatan. Entah kenapa bisa sampai disini. Mungkin dibawa orang, kelihatannya memang dekat dengan lavender,’’ imbuh Cahyo sapaan akrabnya.
Saat turun ke sabana itu, kebetulan ada sepasang bule baru turun dari arah Kalimati. Mereka memanfaatkan momen indah itu dengan berfoto bersama. Ketika ditanya, sang gadis mengaku berasal dari Swedia.
Sampai di ujung sabana, sebuah pohon roboh menjadi pilihan untuk istirahat. Pos itu bernama Cemoro Kandang, perhentian sebelum menuju Kalisat dan Jambangan. Keindahan sesungguhnya Mahameru baru tampak, nanti setiba di Jambangan.
Kawasan itu, konon memiliki kandungan mineral yang sangat banyak. Pesona alamnya adalah Mahameru yang berdiri begitu megah. Kadangkala dia menghembuskan awan panas dari Kawah Jonggring Saloko. Hembusannya mirip cendawan, mirip pula gumpalan tinju.

 Setengah jam kemudian, tibalah saya di Kalimati, secara resmi tiba pukul 16.30. Total kami berjalan dari Ranu Kumbolo sekitar 4 jam 45 menit. Biasanya, Kalimati menjadi pilihan basecamp pendakian, karena dekat dengan sumber air bernama Sumber Mani. Jarak tempuhnya sekitar dua jam perjalanan pulang pergi.
Dari sini, tim TN BTS dibantu sejumlah porter telah menyiapkan tenda dan makanan. Targetnya, pukul 00.00, rombongan akan dibawa mendaki ke Mahameru. Waktu normalnya enam jam. Kami sendiri naik pukul 23.35 dan tiba pada Rabu (5/6) pukul 06.45. (Bagus Ary Wicaksono)
Sudah dipublikasi di Malang Post terbitan  12 Juni 2013 (lihat juga di http://www.malang-post.com/feature/68467-gunung-semeru-pasca-jadi-peran-utama-film-5-cm-habis)




Kak Nanda bermain di halaman Gunung Bromo
Berfoto dengan latar belakang Bukit Teletubbies