Kamis, 20 Desember 2012

Muljanto, Penjaga Candi Bergaji Rp 10 ribu Perbulan



Bagus Ary Wicaksono
Teks foto : BERSAHAJA : Muljanto (53 tahun) penjaga Candi Bocok Di Desa Pondokagung Kecamatan Kasembon, karirnya dimulai dari gaji Rp 10 ribu per bulan.
Simpan Arca di rumah agar tidak dicuri orang

Muljanto 


Ditawari Rp 250 Juta Untuk Lepas Arca Dewi Parwati

Muljanto (53 tahun) pernah menolak uang Rp 250 juta untuk seonggok batu berukir peninggalan jaman kerajaan. Pria yang tinggal  di perbatasan Kabupaten Malang dan Kediri, adalah penjaga Candi Bocok. Candi itu terletak di Desa Pondokagung Kecamatan Kasembon, desa paling ujung di selatan kecamatan.
Perjuangan pak Mul, sapaan akrabnya untuk mnejadi juru kunci candi, patut diacungi jempol. Sebelumnya, tidak pernah ada juru kunci yang bertahan hingga bertahun-tahun, karena gaji tidak jelas. Mul sendiri, bertekad menjadi penjaga candi setelah mendapat wekas (pesan) dari kakeknya, alm.Karto Taslim (eks Bayan Pondokagung).
“Oleh simbah, saya diwekas agar menjaga candi, karena tidak ada orang yang bersedia, katanya ditelateni saja,” ungkap Mul kepada saya.
Maka pada tahun 1980, Muljanto resmi menjadi penjaga candi dengan bayaran Rp 10 ribu per bulan. Namun berbekal pesan kakeknya, pria ramah itu dengan senang hati menjalani tugasnya. Sampai akhirnya dia diangkat menjadi pegawai negeri pada tahun 2006.
“Sebelum menjadi pegawai negeri, tahun 2000-an saya pernah ditawari Rp 250 juta untuk menjual arca Dewi Parwati,” kenangnya.
Saat itu, seorang pria datang ke rumahnya, dan menawarkan uang ratusan juta agar dirinya bersedia melepas arca Dewi Parwati. Bahkan dirinya juga akan diantar ke dealer sepeda motor untuk memilih sepeda motor baru. Ketika itu sosok misterius itu mengaku sudah menyiapkan arca duplikat Dewi Parwati.
”Benar juga pada tahun 2001 dan 2002, patung itu dicuri, namun akhirnya mereka tertangkap polisi dan sempat direkonstruksi di candi ini,” ungkapnya.
Para pencuri itu terbilang nekad, mereka menggempur arca Dewi Parwati supaya kakinya putus. Mengingat kaki arca itu lebih kecil dari pada tubuhnya, namun aneh, justru badannya yang terpotong. Kawanan kemudian mengangkat patung tersebut, tapi ditengah hutan mereka tak sanggung karena arcanya berat.
”Di Polisi, saat itu mereka mengaku sudah ada orang yang menghargai Rp 1,5 miliar untuk arca Dewi Parwati,” imbuh Muljanto.
Makanya, sejak saat itu, kemudian arca Dewi Parwati disimpan didalam rumah seorang tokoh desa bernama Ramelan. Sedangkan, Muljanto sendiri menyimpan arca Siwa didalam salah satu kamar di rumahnya. Sampai saat ini tak terhitung lagi orang yang datang untuk menawar arca itu.
“Ada yang pura-pura mencari nomor togel, tapi lama-lama menawar arca itu, saya tidak akan tergoda, ini adalah tugas negara,” tegasnya.
Sejak ada arca dipindah ke dalam rumah, tak ada hal gaib yang dialami oleh Muljanto sekeluarga. Justru, seorang penjual kerupuk keliling yang pernah melihat sosok laki-laki berbaju seperti raja. Sosok itu berada di depan rumah Muljanto, sang penjual kerupuk kemudian menanyakan hal itu kepada tetangga sang juru kunci.
“Setelah dijawab bahwa didalam rumah saya ada mbah Ageng, barulah si penjual kerupuk sadar bahwa dia melihat sosok gaib,” ujarnya sambil terkekeh.
Lain Muljanto, lain lagi Ramelan, yang menjaga arca Dewi Parwati di kamar rumahnya. Dia sering didatangi oleh perempuan cantik yang mengenakan kemben, kemudian sosoknya hilang masuk ke kamar. Arca itu dia simpan, juga atas wekas (pesan) dari ayahnya, Mbah Siin.
“Ayah saya termasuk tim yang mencari arca hilang pada tahun 1973, ketika ada pencurian,” ungkapnya.
Menurut Ramelan, tidak sembarang orang boleh memotret arca itu, atas alasan keamanan. Saya termasuk istimewa sebab berhasil masuk tanpa harus mencari surat dari desa. Biasanya, orang dinaspun harus membawa surat perintah dari desa untuk bisa melihat arca tersebut.(Bagus Ary Wicaksono)

Watu Gilang, Benteng Hilang Jaman Singhasari

Bagus Ary Wicaksono
MISTERIUS : Situs Watu Gilang di kawasan hutan perbatasan antara Kecamatan Pujon dan Ngantang, menjadi jujugan para pencari pesugihan.

sering ditemukan koin kuno

peninggalan Singhasari

Nun jauh di pedalaman Pujon, terdapat situs Watu Gilang yang belum banyak dijamah oleh masyarakat luas. Aksesnya cukup sulit, hanya sepeda motor yang mampu menembus hingga ke situs bersejarah itu. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam diatas sepeda motor untuk sampai ke areal tersebut.

Pada tahun 1993, pemberitaan di media massa mengenai penemuan bangunan kuno sempat menggegerkan masyarakat. Jawa Pos pada Jumat Wage 19 Februari 1993 juga memuat berita mengenai situs Watu Gilang beserta fotonya. Ada dugaan, kawasan tersebut merupakan bekas areal pertempuran antara Singhasari dan Kerajaan Kediri.
Sebab pada masa Kertanegara, Jayakatwang Bupati Gelang-gelang menyerang Singhasari dari berbagai sisi. Pertama dia menerjunkan pasukan untuk menyerang dari sisi utara sebagai pancingan, kemudian menyerang dari arah selatan. Itu merupakan aksi balasan atas penyerangan masa lalu Ken Arok ke Kadiri melalui Desa Ganter (dekat Pujon).
Kenapa aksi peperangan di lokasi itu diduga terjadi ketika masa Jayakatwang, sebab pernah ditemukan koin China di kawasan tersebut. Koin tersebut diduga dari jaman Dinasti Ming yang didirikan oleh Kublai Khan. Sejarah mencatat, Kublai Khan sempat membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri.
Diduga pasukan tempur mereka melewati kawasan Pujon untuk mencapai Kediri dalam gelombang besar. Paling tidak, dua penemuan besar koin China membuat sejumlah warga Pujon kaya mendadak. Nah, koin itu ditemukan di sekitar areal Watu Gilang yang juga menjadi komplek makam kuno.
Watu Gilang sendiri merupakan sebuah tembok setinggi empat meter dengan panjang sekitar 27 meter. Posisinya diatas puncak gunung dan berbatasan dengan gunung Dworowati di sisi selatan. Di tempat itu, diperkirakan terjadi perang panah antara tentara gabungan sisa laskar Singhasari dan Kediri.
Banyak sekali makam diatas maupun dibawah Watu Gilang, keseluruhan memiliki nisan batu besar berbentuk persegi panjang. Darimana batu-batu itu dibawa, hal itu juga masih menjadi misteri. Akan tetapi berdasarkan temuan di sekitar hutan tersebut, masih terlihat ada batu besar seperti sisa letusan Gunung Berapi jaman kuno.
Nah, Watu Gilang sendiri paling dekat ditempuh melalui Kecamatan Pujon menuju Pasar Mantung. Setelah jembatan Mantung, anda tinggal belok kanan naik menuju Desa Ngabab. Dari sana, tanya saja Watu Gilang, maka tak lama akan datang tukang ojek menawarkan jasa.
Jika tak mengendarai sepeda motor, maka ojek adalah pilihan terakhir menuju situs Watu Gilang. Anda harus rela merogoh kocek cukup dalam, sebab ongkos pulang-pergi Ngabab ke Watugilang mencapai Rp 50 – 60 ribu per orang. Kendati di pedalaman, ternyata tempat itu ramai dikunjungi orang dari berbagai kota di Indonesia, untuk tujuan mencari kekayaan.
”Orang-orang yang kesini banyak datang untuk pesugihan,” ujar Udin, tukang ojek yang mengantar Kota Wisata.
Narsan, tukang ojek lainnya mengatakan, dirinya mendapatkan penghasilan tambahan pada Kamis Kliwon. Saat itu dipastikan sejumlah orang akan datang untuk nepi di Makam Mbah Semuo. Cerita rakyat di Desa Ngabab, Mbah Semuo tak lain adalah ayahanda Anglingdharma.
”Lumayan, kalau Kamis Kliwon bisa 10 orang yang naik ke Watu Gilang,” jelasnya.
Situs tersebut, kini diurus oleh juru kunci bernama Cukup Sudarsono, sekaligus tokoh spiritual setempat. Dia menjaga situs itu sejak tahun 1976 secara turun temurun dari kakeknya Nitiseno. Pada tahun 1990-an, Cukup kemudian diangkat oleh BP3 Trowulan sebagai penjaga situs.
”Sebelumnya situs yang merawat mbah saya pada jaman Belanda yakni Nitiseno jadi Pel Polisi Jaga Wana (mantri hutan),” katanya.
capek juga mendaki bukit

Megah

Juru Kunci

jalur Watu Gilang

 Makam Kuno Yang Jadi Jujugan Pemburu Harta

makam kuno

Di situs itu, orang-orang yang dikebumikan di makam kuno adalah tokoh-tokoh sakti mandarguna. Dia menyebut makam paling utama adalah Mbah Semuo, bapaknya Anglingdharma kemudian Singo Wareng, Ronggowuni, Mbah Melati murid Mbah Semuo dan Kyai Ageng Gringsing.  
”Juga ada makam Ronggojati, Sutejo Anom, Rojo Mulyo, Syeh Abdul Khodir Jaelani, Syeh Subakir dan Syeh Maulana malik Ibrahim serta Ki Ageng Serang juga disitu,” terangnya.
Cukup enggan mengakui bahwa kebanyakan yang berziarah ke situs Watu Gilang untuk mencari pesugihan. Akan tetapi secara tersirat dia menegaskan bahwa kebanyakan orang datang untuk keberhasilan kerja. Orang Ziarah dari seluruh Indonesia, Bengkulu bahkan hingga Kalimantan.
”Informasi dari gethok tular, kalau kerja berhasil maka akan diikuti orang. Yang berhasil nyuwun kerja lancar dan kaya,” tukasnya.
Untuk itu, tamu ziarah wajib membawa bunga telon 10 bungkus, minyak fanbo, dupa gunung kawi dan menyan madu merah per satu orang. Cukup sendiri, meskipun melalui mata batin membenarkan bahwa tempat itu dulu menjadi ajang pertempuran Singasari. Buktinya, di kawasan itu masih ada jalur kuno yang menjadi jalan masa lalu menuju langsung ke Singhasari.
Untuk tiba ke Watu Gilang, harus ekstra hati-hati ketika melewati jalur offroad yang hanya cukup untuk satu sepeda motor. Jalur akan makin naik ke arah puncak bukit yang diselimuti kabut tipis. Aura magis langsung terasa saat berada di pintu masuk Watu Gilang, sebuah kuburan dan kolam kuno sudah menyambut kita.
Di depan situs itu sudah tersebar beberapa makam kuno dan sebuah tangga batu persegi. Watu Gilang jelas terlihat, bentuknya yang besar bagai tembok raksasa untuk benteng sebuah kerajaan. Ada jalan setapak yang menuju ke makam utama Mbah Semuo serta makam para tokoh lainnya.
Dari makam-makam yang ada di tempat itu, hanya makam Mbah Semuo yang diberi rumah-rumahan. Disamping makam terdapat jalur setapak menuju Goa Dworowati nun jauh diatas puncak gunung lainnya. Disisi depan makam terdapat jalur kecil menuju puncak lainnya berjarak sekitar 50 meter dengan halaman sebuah jurang sangat dalam.(Bagus Ary Wicaksono)

Senin, 22 Oktober 2012

Doa Ulang Tahun



Ya Allah
Hari ini aku dalam kekhusukan dan keihlasan dihadapan hamparan rezekimu ..
Ya Allah
Kau ciptakan aku dari tiada, menjadi ada …
Kemudian kau kembalikan aku kepadamu …
Ya Allah,
Kehidupanku bejalan dan berputar sesuai dengan kehendakmu
Ya Allah,
Hari ini telah sampai usia ku dalam kedewasaan, jadikanlah aku menjadi khusuk dan tawaduk dalam menerimah hikmah dan berkahmu
bertambah usia dalam hitungaku, berkurang pula usiaku dalam hitunganmu..
Ya Allah,
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat hidup dan menjadi bermanfaat bagi ummatmu yang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaranmu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rezeki yang Engkau anugerahkan kepadaku.
Ya Allah,
Jadikanlah aku termasuk ke dalam orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap rezeki dan anugrah yang Engkau berikan
Ya Allah,
Terimakasih Engkau telah mengangkat aku menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terimakasih engkau telah memberikan Cahaya Keimanan kepada kami agar kami dapat mengenalmu…
Terimakasih ya Allah…Ya Rabbi…

Senin, 13 Agustus 2012

Arboretrum Sumber Brantas


Taman Raksasa Untuk Anak Cucu


Suatu saat, tiga buah hati saya, Ananda Alma Bella Wicaksono,Aura Putri Wicaksono dan Safiyya Nareswari Wicaksono, harus saya ajak datang ke tempat ini. Arboretrum Sumber Brantas di Kecamatan Bumiaji, menjadi pilihan menarik ketika liburan. 

Anak-anak saya harus tahu bahwa sungai Brantas yang membelah Jawa Timur itu berhulu di balik taman raksasa itu. Mereka pun juga wajib memahami konsep sederhana mengenai pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Sehingga pada saatnya, anak-anak kecil itu bakal tumbuh menjadi kupu-kupu yang menghargai alam. Dan bersanding dengan manusia lainnya untuk sama-sama hidup sebaik-baiknya manusia.


Kawasan yang sangat teduh itu, berada di bawah Gunung Anjasmoro dekat areal pertanian sayuran kentang Jurang Kuali. Kawasan itu dilengkapi sekitar 3.600 jenis pohon, yang ditata sedemikian apik bak taman raksasa.
 
Arboretrum merupakan taman yang dikeliling sungai kecil yang airnya berasal dari Sumber Brantas. Lokasinya di pinggir hutan kawasan Gunung Anjasmoro, dinaungi berbagai macam pohon. Untuk pendidikan, masyarakat bisa melihat dengan dekat berbagai macam jenis pohon yang tumbuh di sini.
Lokasi ini pun dilengkapi kantor, yang dijaga oleh seorang pegawai honorer. 
Kawasan konservasi sumber air itu, dibawah naungan Perum Jasa Tirta 1 berkantor di Kota Malang. Sejatinya, lokasi ini memiliki cottage yang bisa disewakan, hanya saja saat ini pembangunannya masih belum selesai.
Namun di balik polesan tersebut, sebenarnya fungsi arboretrum adalah untuk belantaranya pohon penaung sumber air. Arboretrum, tempat tumbuhnya berbagai macam pohon menjaga kelangsungan sumber air. Di samping itu, fungsinya juga sebagai sarana pendidikan lingkungan bagi masyarakat.
Di Jawa Timur, fungsi Arboretum Sumber Brantas sangat penting, yakni untuk menjaga kelangsungan hulu Sungai Brantas. Sungai Brantas sendiri mengaliri Kota Batu, Kota/Kabupaten Malang, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, bermuara di Selat Madura.
”Sungai Brantas ini menjadi sumber penghidupan rakyat Jawa Timur, karena airnya selain untuk pertanian juga menjadi sumber energi listrik,” ujar Miseri.
Miseri, telah mengabdi sebagai pegawai honorer Perum Jasa Tirta 1 sejak dibangunnya Bendungan Karangkates. Dia paham betul fungsi arboretrum. Selaku penjaga, dia bertugas melestarikan pohon di kawasan arboretrum termasuk yang baru ditanam dalam program penghijauan.

 Karena itu dia mengajak masyarakat, untuk terus melakukan penghijauan agar air sebagai sumber kehidupan terus terjaga. ”Kalau mau menginap di sini boleh, namun harus izin kantor pusat. Dan biasanya pengunjung yang menginap untuk kepentingan penelitian,” ujarnya.
Sesuai data PJT 1, lokasi Arboretum Sumber Brantas semula diperuntukkan sebagai lahan pertanian sayur oleh penduduk atau petani setempat. Kemudian dilakukan rehabilitasi mata air Sumber Brantas, tahun 1982.  dilanjutkan pembebasan lahan seluas  ± 11 Ha pada tahun 1983, melalui ganti rugi oleh Proyek Brantas. Dan pada tahun 1995 ada tambahan lahan seluas ± 1 Ha lewat ganti rugi oleh Perum Jasa Tirta I hingga dengan pembangunan dan penanaman pohon.

Nama Arboretum Sumber Brantas, diberikan oleh Menteri Kehutanan RI (Ir Hazrul Harahap) ketika berkunjung ke kawasan itu pada tahun 1989. Untuk pengembangan berkelanjutan Sumber Brantas, ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 631 tahun 1986 dan surat keputusan Gubernur Jawa Timur No.63 tahun 1988, yang mengatur kawasan mata air Sumber Brantas sebagai daerah suaka alam dalam wilayah tata pengairan Sungai Brantas.

Kini jenis tanaman yang ada mencapai 3.200 pohon, terutama tanaman keras penaung sumber air. Di antaranya ada kayu manis (Cinnanonum burmani), kayu Putih (Eucalyptussp), Gagar (Fraxinus griffiti), Cemara Duri (Araucariasp), Cemara Gunung (Casuarinajunghuhniana), Kina (Chinchona sp ) dan Cempaka/Locari (Michelia champaka).(tulisanku dari www.kotawisatanews.com

Jumat, 09 Maret 2012

Rokok Raksasa di Museum Bentoel Wiro Margo



Berada di kamar Ong hok Liong, situasinya dibuat seperti aslinya dilengkapi perabot lawas

Membaca Perjalanan Hidup Ong Hok Liong

Bentoel merupakan salah satu raksasa pabrik rokok asal Malang yang kini makin mendunia. Sejak diakuisisi BAT, Bentoel makin moncer padahal dulu hanya pabrik kecil dengan selusin buruh. Membaca sejarah Bentoel seperti mencumbui aroma khas tembakau dan keringat Ong Hok Liong sang pendiri Bentoel.

Seluruh hidup Ong Hok Liong dan perjalanan Bentoel tersaji dengan sederhana di Jalan Wiro Margo 32 (Barat Pasar Besar) Kota Malang. Rumah kediaman alm. Ong itu kini menjadi museum yang menyajikan masa lalu perjuangannya. Sederet peralatan pembuatan rokok yang sederhana sampai awal alat modern ditampilkan di museum itu.

Saya dan rekanku Syarendra Adhitama http://butawarnafotografi.blogspot.com/(fotografer) disambut oleh Ainul Yakin Satpam museum ketika baru saja masuk pintu gerbang. Dengan ramah pria berkumis itu mengantar keliling ke seluruh areal. Di lokasi itu, terdapat dua rumah, satu rumah besar untuk bangunan utama museum dan satu rumah lebih kecil untuk ruang pertemuan.
Ainul Yakin Satpam Museum Bentoel berada di ruang tamu kediaman Ong
Rumah itu berkarakter bangunan Belanda, sebuah rumah yang mencerminkan pemiliknya adalah orang kaya pada masanya. Wiro Margo sendiri dulu disebut dengan Pecinan Kecil, karena memang dihuni warga Tionghoa. Lokasinya juga dekat dengan pusat perdagangan (Pasar Besar) seperti perencanaan Gemeente Malang.
Di luar gedung museum, aroma lawas sudah terlihat dari kursi-kursi kayu yang sengaja diletakkan di teras rumah. Ainul membuka pintu raksasa kemudian nampak patung perunggu Ong Hok Liong mengenakan jas. Tampak di depan patung adalah plakat peresmian ditandatangani oleh Walikota Malang Soesamto.
Maka selepas patung itu, ruang tamu sudah diubah menjadi diorama sejarah Bentoel. Awal proses produksi pabrik rokok berikut alat-alat sederhana pada jamannya juga dipampangkan disana. Malahan guci kaca besar yang digunakan untuk meracik tembakau juga diboyong. Termasuk bangku kayu yang dulu dipakai duduk para peracik tembakau masa lalu.
Dalam penuturan sejarah, yang lebih menguat adalah sosok Ong Hok Liong sang pendiri Bentoel. Seluruh kiprah Ong, termasuk inspirasinya ketika memakai merek Bentoel juga diceritakan. Ong mendapat nama itu setelah tetirah di Gunung Kawi yang kelak selalu menjadi jujugannya ketika susah dan senang.
Interior lainnya banyak disuguhi dengan foto-foto lawas keluarga Ong Hok Liong di setiap sudut. Yang mendominasi adalah foto ukuran besar sang pendiri Bentoel bersama istrinya Liem Kim Kwie. Peninggalan keluarga itu termasuk buffet sampai meja tamu pada masanya juga masih terawat dengan baik.
Merek-merek rokok yang pernah diluncurkan Bentoel

Di kamar sebelah barat terdapat ruang kerja Ong berikut peralatan kuno seperti radio besar era 1960-an. Lukisan gadis Bali yang sangat kuno terlihat dari serpihannya dimakan ngengat teronggok di pojok ruangan. Di dekat pintu ada lemari besi merek Louvre yang dulu dipakai menyimpan uang.
Bergeser ke luar, akan ditemui dua sepeda ontel, namun satu dari sepeda itu memiliki mesin. Di baratnya merupakan kamar Ong dan Liem dengan tatanan sesuai pada masanya. Terdapat kulkas kuno produksi Amerika merek General Motors di belakang pintu, kulkas itu  hanya dimiliki orang kaya pada masa lalu.
Kamar tidur Ong dilengkapi lonceng, itu digunakan untuk memanggil pembantu ketika dibutuhkan. Jika dirasakan, bisa jadi suasana kamar itu bak kamar hotel berbintang masa lalu. Piliha furniturenya juga berkelas, seperti meja dengan tatakan marmer yang super bagus.
Di sisi kamar lainnya, anda akan mendapati rokok kretek rakasa yang dulu memecahkan rekor muri. Dibelakang rokok itu terdapat puluhan merek rokok yang pernah diproduksi Bentoel. Termasuk adalah rokok merek Mohon DOa Restu dulu dipakai saat acara-acara nikahan serta rokok Istana Presiden.
“Jaman dulu instansi itu juga dipasok rokok oleh kita, biasanya mereknya sesuai dengan nama instansi,” beber Ainul Yakin.
Rokok raksasa yang pernah masuk MURI
Nah, kisah Ong membangun usahanya, tertulis jelas dalam lembaran-lembaran keterangan di museum itu. Pendiri pabrik rokok itu berasal dari keluarga tua “Cina-Jawa”, Ong Hing Tjien tak pernah tahu kampung leluhurnya di Tiongkok. Perkawinannya dengan Liem Pian Nio, membuahkan tujuh anak (empat laki-laki, tiga wanita). Yang tertua: Ong Hok Liong.
Menikahi Liem Kiem Kwie Nio (1896-1968) pada usia remaja, Ong Hok Liong tak hanya mendapat dua anak, Mariani dan Rudy Ong, tapi juga menggabungkan dua keluarga yang belakangan menjadi perintis Bentoel.
Modal awal Ong Hok Liong didapat dari menggadaikan perhiasan istrinya yang juga motor utama perusahaan keluarga pada masa awal. Putri sulung sepuluh bersaudara mewarisi sifat ulet keluarga Liem. Selain sebagai pendamping Ong Hok Liong, ia juga berperanan penting dalam perkembangan perusahaan Bentoel.
Dari pihak Ong, dua karyawan pertama Hien An Kongsie adalah adiknya sendiri: Ong Hok Pa dan Ong Hok Bing, bertugas antara lain ngopyok bako (mencampur saus tembakau). Dan sebelum dikelola bersama Rajawali Group mulai akhir tahun 1991, pemimpin terakhir Bentoel sebagai perusahaan keluarga adalah Suharyo Adisasmito, putra sulung Nng Hok Bian, juga seorang adik Ong Hok Liong.
Dua anaknya tak berkecimpung dalam dunia yang sama. Rudy menetap di Amerika Serikat sampai saat meninggalnya. Menantunya, Samsi (Sie Twan Tjing), memang sempat memimpin Bentoel (1961-1966). Tapi istrinya, Mariani, tak ikut campur. Putri sulung Ong Hok Liong ini membuka toko batik di depan rumahnya.
Dulu, semasa merintis pabrik rokok, pembuatan saus dikerjakan sendiri oleh Ong Hok Liong. Bahannya terdiri dari saus Havana, pisang ambon dan Alkohol. Ramuan ini dimasukkan ke dalam panci dan diaduk memakai centong (sendok kayu). Setelah tercampur rata, lalu dituang dalam botol-botol yang disimpan dalam lemari. Baunya yang keras semerbak menjadi ciri khas rumah di Jalan Wiromargo 32 pada waktu itu.(Bagus Ary Wicaksono)


Museum Sejarah Bentoel
Jl Wiromargo 32 Malang 65117
Telp 0341-328658
Sekarang Museum Bentoel sudah berwajah baru, datang saja kesana.

Kamis, 08 Maret 2012

Gereja Ini Ditabrak Pesawat Tempur - Gereja Kayu Tangan

Dibangun Masa Romo Jonckbloet,
Photo by : Syarendra Adhitama
Pernah Ditabrak Pesawat Tempur 

Kota Malang memiliki heritage yang menjadi saksi eksistensi umat Katolik sejak masa pendudukan Belanda. Salah satunya adalah paroki Hati Kudus Yesus (HKY) telah eksis semenjak tahun 1897, dipimpin oleh Romo Godefriedus Daniel Augustinus Jonckbloet. Masa awalnya, paroki ini tidak memiliki gereja dan bahkan sempat menumpang di pendopo Kabupaten Malang masa Bupati Kanjeng Raden Aryo Tumenggung Notodiningrat.
Ketika itu, pendopo berubah menjadi gereja Katolik lengkap dengan orgel, kamar pengakuan dosa, mimbar dan bangku komuni. Hal ini tercatat lengkap dalam buku kenangan perayaan 100 tahun paroki HKY Kayu Tangan. Delapan tahun kemudian, tepatnya 1905, barulah gereja Kayu Tangan dibangun di utara alun-alun.
Itu adalah gereja Katolik tertua di Kota Malang dengan gaya neo gotikyang diperkenalkan arsitek Belanda terkenal pada masanya Dr. P.J.H Cuypers (1827-1921). Seni bangunan itu merupakan ciri khas bangunan abad pertengahan paruh abad 19 dengan bentuk struktur gedung yang tinggi.
Dijelaskan pula bahwa model struktur tersebut memiliki kerangka kokoh pada dinding dan atap yang berfungsi sebagai penutup. Lalu diletakkan jendela dan pintu yang besar pada dinding yang dibangun dengan konstruksi skelet. Hal ini nampak pada tembok luar gereja yang ditopang tiang penyangga dinding berbentuk persegi.
Namun rupanya, ciri khas gotik dengan lengkungan meruncing pada gereja Kayu Tangan juga dipengaruhi unsur Islami. Paling tidak terdapat pengaruh seni bangunan Islam dalam gereja Katolik termegah di Malang Raya itu.
Hal ini diakui dalam buku kenangan 100 tahun paroki HKY dengan menyitir buku Mr. Schuman.
Schuman dalam buku berjudul De Arabieren yang terbit 1960 membeber bahwa model lengkung runcing itu telah popuper pada abad 8. Ketika itu Bani Umayyah yang berkuasa di Suriah yang memakainya hal ini tersisa dari sisa reruntuhan bangunan kuno di Ramlah. Baru pada abad 12, gaya lengkung runcing masuk ke Eropa, tepatnya di Perancis.
Dari kejauhan, gereja itu menjadi penanda Kota Malang, terutama dengan dua menara yang memiliki ketinggian sekitar 33 meter. Menara itu dibangun pada masa Mgr. Clemens van der Pas, O.Carm ketika diangkap sebagai Prefek Apostolik Malang yang pertama pada tahun 1927. Setelah dana diserahkan tahun 1930, pembangunan dilakukan sesuai rancana arsitek Ir. Albert Grunberg.
Menara itu berbeda dari rancangan menara arsitek gereja itu Ir. Marius J. Hulswit pada tahun 1905. Ketika itu gereja yang dirancang Marius dibangun dengan pemborong C. Vis diabntu Van,t Pad dan Bourguignon sebagai pembantu pemborong serta Molijn sebagai pengawas pembangunan. Namun terlepas dari pembangunan awal gereja, tahukah pembaca, bahwa menara itu pernah ditabrak oleh pesawat tempur Auri.


Tercatat menara itu dua kali runtuh sejak dibangun 1930, pertama runtuh pada 10 Februari 1957 ketika ada kotbah di gereja. Sebuah salib di ujung menara runtuh dan menimbulkan lubang besar pada atap gereja. Kemudian pada 27 November 1967, menara kembali runtuh akibat ditabrak pesawat.


Pada peristiwa kedua ini, disertai ledakan yang mengagetkan akibat jatuhnya salib seberat 108 kg. Ketika itu bruder yang ada di gereja mengira ada lemparan granat, namun ternyata salib itu diserempet pesawat yang sedang mengalami kerusakan mesin. Burung besi berawak tiga orang itu kemudian masih terbang dan akhirnya jatuh di kawasan Buring, mereka tewas.
“Pesawat itu terbang rendah menabrak menara karena kerusakan mesin,” ujar Tionghoa tua pemilik toko di Kayu Tangan.
Sampai saat ini gereja itu masih kokoh menantang jaman, bahkan menjadi ikon tersendiri bagi Kota Malang. Wisatawan manca negara pun memastikan melihat gereja itu dalam rangkaian city tour mereka. Menariknya, dalam kapel gereja menyimpan berbagai inkripsi kuno, bahkan kabarnya terdapat Al Quran dari Tunisia peninggalan tahun 1920-an.(Bagus Ary Wicaksono)